Baru saja aku menyiramkan sedikit bagian air minumku, yang aku ambil dari Galon.
Tidak seperti di rumah, dari ceret bewarna jingga.
Oh ya, aku menyiramnya ke pot bunga yang kubeli ntah kapan itu. Jika kupaksa mengingat, aku lupa di mana aku menemukannya.
Eh, iya. Aku menyiramkannya di pot yang telah aku tanam bunga bawang. Aku menyebutnya seperti itu. Sebab, tanaman ini bagian akarnya terdapat bawang-bawangan.
Oh, bunga bawang yang tertanam di pekarangan rumah kita. Yang jika bunganya muncul bewarna merah muda. Dengan batangan lembut -berair.
Aku menyukainya jika ia berbunga. Perkarangan semakin bewarna.
Ya, aku menyiramkan air di situ. Di pot bunga yang tertanam bunga bawang yang jika berbunga bewarna merah muda. Lalu, setelah aku melanjutkan kisahku perantauan, di depan mesin tik modern ini. Jariku berhenti, hidungku mengendus.
Aroma, bau tanah.
Aroma yang semakin membuatku tahu, kenapa aku menguatkan diri membawa sekantong tanah dari pekarangan rumah dan tanamannya.
Aroma ini, akan mengingatkan aku di sana. Apatah lagi, ketika mengais rumput-rumput kecil di antara bunga bawang, untuk menjadi
kannya lebih terpusat.
Ah, aku merindu rumah.
Aroma tanah dari sana, dan pecahan-pecahan kepah kecil, tengkuyong, dan congkak di antaranya....
Aku merindukan rumah.
Bagaimana kabar Dahlia? Sudah mekarkah ia?
Semakin rindangkah, pepohonan bambu?
Lalu, anggrek hujan, masihkah ia mekar?
Tidak seperti di rumah, dari ceret bewarna jingga.
Oh ya, aku menyiramnya ke pot bunga yang kubeli ntah kapan itu. Jika kupaksa mengingat, aku lupa di mana aku menemukannya.
Eh, iya. Aku menyiramkannya di pot yang telah aku tanam bunga bawang. Aku menyebutnya seperti itu. Sebab, tanaman ini bagian akarnya terdapat bawang-bawangan.
Oh, bunga bawang yang tertanam di pekarangan rumah kita. Yang jika bunganya muncul bewarna merah muda. Dengan batangan lembut -berair.
Aku menyukainya jika ia berbunga. Perkarangan semakin bewarna.
Ya, aku menyiramkan air di situ. Di pot bunga yang tertanam bunga bawang yang jika berbunga bewarna merah muda. Lalu, setelah aku melanjutkan kisahku perantauan, di depan mesin tik modern ini. Jariku berhenti, hidungku mengendus.
Aroma, bau tanah.
Aroma yang semakin membuatku tahu, kenapa aku menguatkan diri membawa sekantong tanah dari pekarangan rumah dan tanamannya.
Aroma ini, akan mengingatkan aku di sana. Apatah lagi, ketika mengais rumput-rumput kecil di antara bunga bawang, untuk menjadi
Ah, aku merindu rumah.
Aroma tanah dari sana, dan pecahan-pecahan kepah kecil, tengkuyong, dan congkak di antaranya....
Aku merindukan rumah.
Bagaimana kabar Dahlia? Sudah mekarkah ia?
Semakin rindangkah, pepohonan bambu?
Lalu, anggrek hujan, masihkah ia mekar?

Komentar