Terkadang aku merasa bangga dengan diriku saat ini. Lalu mengapa begitu? Aku mencoba menata masa lalu yang membentuk diriku yang sekarang. Tentu, pribadi ini bukan terbentuk instan tetapi proses. Dan, penuh dukungan dari berbagai lingkungan. Aku juga merasa bangga dengan diriku karena pertimbangan-pertimbangan yang membentuk pola pikirku. Tentu saja itu karena berbagai akibat dan sebab. Aku tidak akan terbentuk jika bukan ada kemudian maka. Diriku yang dulu adalah kesulitan yang dibawa kemudahan. Aku yang dulu adalah kecil yang mau membesar. Aku adalah rugi yang diuntungkan. Aku adalah mahluk yang dilindungi atas doa-doa Ibu--bapak (semasa hidupnya atau bahkan doa diakhir hidupnya). Aku adalah kebahagiaan yang berasal dari kebahagiaan orang tuaku. Aku, di usia 4,5 tahun itu ditinggal oleh Bapak, untuk selamanya. Bahagiaku menyimpan kenanganya tanpa cela, jika pun kecewa aku tak layak untuk murka. Si kecil itu selalu diistimewakan dan dirayakan. Begitu egoku...