Langsung ke konten utama

Satu Kata: Menjatuhkan atau Mengangkat?

Dulu, tahun 2008 ketika merasa krisis kepercayaan diri karena kegagalan, kesibukan dengan dunia baru adalah pelarian. Cara itu untuk menata hati yang sempat tercacah di balik wajah tampaknya senang-senang saja. Pelan-pelan menyusun rencana untuk memperbaiki situasi yang tidak diharapkan. Awalnya suasana itu terasa nyaman, dapat dinikmati, dan tampak ada hasil. 


Hanya saja di lingkungan yang tampak menentramkan rupanya ada saja bendungan yang siap menghalau. Mungkin karena telalu asik diisi, air yang tampak tenang tentu saja bisa menjadi riak hingga bergelombang bahkan menjadi bumerang yang menghempas semaunya. Mungkin, karena merasa yang diutamakan, digugu, hingga lupa bahwa semua kata tidak dapat diterima oleh semua yang dianggap sama. Setidaknya untuk orang yang sedang mencari jalan bagaimana kembali meneguhkan diri. 


Diksinya tidak banyak. Disampaikan dengan lugas. Kepercayaan diri yang dicari, yang ada pada dirinya digunakan penuh keyakinan dan wibawa. 


"Bingal". 

Kata itu menjadi amunisi yang kuat untuk meruntuhkan semangat perjuangan. Untung saja masih ada tenaga untuk lari dari medan yang bukan untuk perang walau di dalam sana tertatih untuk bangkit dan berjuang. Maka pilihan yang diambil adalah; lari. 


Kembali mengambil jalan lari. Membulat tekad untuk mencari zona lain. Namun, kerapuhan tidak ditunjukan secara langsung tetapi dengan dagu yang telah dilatih untuk mendongak sebentar, mengatakan kepada empunya kata: undur diri, terima kasih

Bayangkan satu kata itu masih menduri sejak 2008 lampau. 

Situasi ini mungkin terjadi lagi di beberapa situasi hanya hati sedang kokoh. Seribu kata buruk yang tidak pernah diajarkan di rumah disampaikan pun tampaknya tak apa-apa. Sayangnya saat itu gendang telinga sedang tak dapat menerima kata bermakna negatif itu. Sama seperti kata hari ini. 

Air dibiarkan asik mengisi itu rupanya tidak tau bahwa bendungan tak selalu mampu mendengar kata-kata. Dia mengehempas makna yang merusak dinding yang terlalu sering retak dan ditambal. 



Sedikit saja katanya

"Bodo Bale"


Kemudian duri-duri kembali menancap. Kesalahan-kesalahan yang dilemparkan oleh diri sendiri semakin menganga. Malam-malam seperti ini ketika kekalutan menghantui antara keputusan yang salah atau memang takdir yang telah pasti, menjadi bagian dari skenario yang berjalan pada labirin kegundahan. Rumit, berkelok, terlalu banyak buntu. Rapuh, runtuh. Jika keruntuhan menghasilkan tunas, bunga, dan buah yang ranum tentu saja jalan keluar yang diharapkan. 


Semoga tidak menambah terkukungnya kebangkitan. 




-ulasan lama-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan 1: Magang 1

    Assalamualaikum, ww.   Halo kawan-kawan mahasiswa. Selamat telah sampai pada level ini. Selamat sudah masuk sampai perkuliahan Magang 1. Selamat juga berhasil menyelesaikan ritme perkuliahan melalui Daring selama ini. Kalian semua hebat.   Pada perkuliahan Magang1, saya Farninda Aditya dimanahkan untuk mengampu mata kuliah ini. Bagi yang sudah pernah bertemu dengan saya pada mata kuliah sebelumnya, Bahasa Indonesia terutama, tentu sudah paham bagaimana gaya pembelajaran saya.    Menulis adalah yang Utama. Disiplin adalah Aturan. Komunikasi adalah Penyelamat.  Sebelum membahas tentang Apa itu Mata Kuliah Magang?, perkenankan saya menjelaskan cara belajar kita.   Pertama,  Media . Media utama yang digunakan adalah WhatsAap, e-Leraning, Google Meet, Youtube, Instagram, dan Blog.   Media berkomunikasi adalah WhatsAap dan pembelajaran adalah e-Learning. Jadi, segala informasi akan saya sampaikan sebelumnya melalui ...

Pertemuan 1: Mata Kuliah Magang 2

  Assalamualaikum, ww. Halo kawan-kawan mahasiswa. Selamat telah sampai pada level ini. Selamat sudah masuk sampai perkuliahan Magang 2. Selamat juga berhasil menyelesaikan ritme perkuliahan melalui Daring selama ini. Kalian semua hebat. Pada perkuliahan Magang21, saya Farninda Aditya dimanahkan untuk mengampu mata kuliah ini. Bagi yang sudah pernah bertemu dengan saya pada mata kuliah sebelumnya, Bahasa Indonesia terutama, tentu sudah paham bagaimana gaya pembelajaran saya.  Menulis adalah yang Utama. Disiplin adalah Aturan. Komunikasi adalah Penyelamat.  Sebelum membahas tentang Apa itu Mata Kuliah Magang?, perkenankan saya menjelaskan cara belajar kita. Pertama, Media . Media utama yang digunakan adalah WhatsAap, e-Leraning, Google Meet, Youtube, Instagram, dan Blog. Media berkomunikasi adalah WhatsAap dan pembelajaran adalah e-Learning. Jadi, segala informasi akan saya sampaikan sebelumnya melalui jaringan ini, terkait media yang akan digunakan pada pembelajaran, keha...

UTS Bahasa Indonesia Kelas PAI

1. Bagaimana pendapat Anda tentang Pendidikan Agama Islam 2. Berikan pendapat ahli tentang Pendidikan Agama Islami. Minimal 3 pendapat boleh menggunakan bantuan buku, internet, dan sebagainya. 3. Berikan dalil yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam boleh hanya artinya saja dan berikan pendapat anda tentang dalil tersebut. 4. Bagaimana menurut anda kondisi  Pendidikan Agama Islam saat ini? 5. Bagaimana pendapat anda tentang Prodi Pendidikan Agama Islam sebagai lembaga pendidikan untuk masyarakat? 6. Apa harapan anda untuk Pendidikan Agama Islama Sat ini dan mendatang? 7. Tulis ulang jawaban anda, dari jawaban nomor 1 sampai 6 tanpa penomoran, silakan sesuaikan kata atau kalimat agar lebih. Beri judul sesuai dengan isi.  8. Jawaban nomor 1-6 tulis di Dokume  Word, kirim melalui Drive. Jawaban nomor 7 kirim melalui blog masing-masing dan tautan dikumpulkan pada grup WA.