Terkadang aku merasa bangga dengan diriku saat ini. Lalu mengapa begitu? Aku mencoba menata masa lalu yang membentuk diriku yang sekarang. Tentu, pribadi ini bukan terbentuk instan tetapi proses. Dan, penuh dukungan dari berbagai lingkungan. Aku juga merasa bangga dengan diriku karena pertimbangan-pertimbangan yang membentuk pola pikirku. Tentu saja itu karena berbagai akibat dan sebab. Aku tidak akan terbentuk jika bukan ada kemudian maka. Diriku yang dulu adalah kesulitan yang dibawa kemudahan. Aku yang dulu adalah kecil yang mau membesar. Aku adalah rugi yang diuntungkan. Aku adalah mahluk yang dilindungi atas doa-doa Ibu--bapak (semasa hidupnya atau bahkan doa diakhir hidupnya). Aku adalah kebahagiaan yang berasal dari kebahagiaan orang tuaku. Aku, di usia 4,5 tahun itu ditinggal oleh Bapak, untuk selamanya. Bahagiaku menyimpan kenanganya tanpa cela, jika pun kecewa aku tak layak untuk murka. Si kecil itu selalu diistimewakan dan dirayakan. Begitu egoku...
Mak, kamek balek Tanjong. Nyambot Puase. Kamek ziarah kubor biase e, kamek langsong ke kuburan bapak, tapi taon ni kamek ke kuboran Emak. Taon lalu Emak kate, kalau mintak panjangkan umor sampai bulan puase. Alhamdulillah Emak sampai puase bahkan tak mbuang padahal gek saket temasok uzor. Mak bise sampai lebaran fitri, sampai ugak lebaran adha. Alhamdulillah. Semue e bejalan baek-baek jak, walau ade emang kuar masok RS :( tapi medio Mei 2025 itu mase paling berat. Kamek ngurus sekolah di negeri orang sampai nak 3 minggu tapi di mase kamek dak boleh keluar dari negara tu emak drop. Drop mak. Bukan drop biase, tapi ini menjalar ke kognitif bahkan psikomotorik. Hingga ape yang disebut melilu itu kite hadapi. Dak lamak, dari Mei sampai ke Awal November. Dak lamak mak. Hingga November di tanggal lahir emak, emak mendapatkan hadiah disembuhkan oleh Allah. Emak kembali ke jalan-Nya. Emak diberi hadiah tentang waktu yang telah dijanjikan. Emak mendapatkan doa...