Terkadang aku merasa bangga dengan diriku saat ini. Lalu mengapa begitu? Aku mencoba menata masa lalu yang membentuk diriku yang sekarang. Tentu, pribadi ini bukan terbentuk instan tetapi proses. Dan, penuh dukungan dari berbagai lingkungan.
Aku juga merasa bangga dengan diriku karena pertimbangan-pertimbangan yang membentuk pola pikirku. Tentu saja itu karena berbagai akibat dan sebab. Aku tidak akan terbentuk jika bukan ada kemudian maka.
Diriku yang dulu adalah kesulitan yang dibawa kemudahan. Aku yang dulu adalah kecil yang mau membesar. Aku adalah rugi yang diuntungkan. Aku adalah mahluk yang dilindungi atas doa-doa Ibu--bapak (semasa hidupnya atau bahkan doa diakhir hidupnya). Aku adalah kebahagiaan yang berasal dari kebahagiaan orang tuaku.
Aku, di usia 4,5 tahun itu ditinggal oleh Bapak, untuk selamanya. Bahagiaku menyimpan kenanganya tanpa cela, jika pun kecewa aku tak layak untuk murka. Si kecil itu selalu diistimewakan dan dirayakan. Begitu egoku menilainya.
Kepergiannya aku mendapatkan banyak cinta. Bisa jadi karena "anak kecil tanpa bapak" Tapi aku lebih percaya karena "anak kecil dari orang tua yang banyak menyebar kebaikan". Dan aku memanen kebaikan yang mereka sebar. Hingga aku besar.
Aku memang tampak ditampung. Tapi aku lebih memilih diksi bahwa aku diistimewakan. Aku tak pernah merasakan sulitnya membayar uang sekolah. Sejak SD hingga kuliah. Ada banyak wali yang menyayangi, ya karena mereka ingat bahwa aku anak dari siapa.
Dalam masa aku memiliki motor saja aku tak pernah beli. Motorku selalu dari toko -buka bungkus-, gratis, dengan STNK atas namaku. Itu adalah hadiah dari saudara kandung emak dan saudara kandung bapak.
Lalu jajanku? Nah, aku rasa ini berasal rumah tentang kemampuan menyelamatkan diri. Setahuku, sebelum bapak meninggal-usia 4,5 tahun itu aku ingat bahwa aku penjual ulung. Mungkin aku sudah tau bahwa harus ada usaha untuk mendapatkan kenikmatan. Aku menjual kangkung yang telah diikat oleh Emak. Kangkung yang kami ambil dari ladang dekat rumah.
Kemudian, kemampuan itu berlanjut hingga aku SD- bahkan SMA. Aku menjual banyak hal. Tetapi itu berupa makanan. Aku pun suka makan. Aku menjual kangkung, bingke, dokok-dokok, es kampel, gule tarek, jerok jambuk, jambuk, nasik bungkus, nenas potong hingga cendol. Hingga aku kuliah aku mengojek dengan tarif 150-200 sebulan.
Berkat kasih sayang yang aku dapatkan dari banyak orang. Berkat kemampuan menyelamatkan diri. Berkat kesulitan menggapai kemudahan itu, aku tidak mudah untuk jatuh. Aku tidak mudah tersinggung. Aku bisa memilah sesuatu yang berdampak begini dan begitu.
Emak pun menasehatkan "tak boleh kelai, kite sedare". Itu selalu diingatkan hingga akhir hayatnya.
Atau kejumawaan beliau yang kuikuti " Aku tak pandai nak bekelai dengan orang, kawan aku banyak, orang pon sayang dengan aku".
Emak mengajarkan untuk tidak menjadi angkuh. Harus sabar, berusaha, dan selalu baik. Aku menyaksikan tentang banyak kasih sayang ia sebar bahkan setelah meninggal. Anak saudara, handai taulan bahkan anak dari saudara bapak. Padahal bapak telah berpuluh tahun meninggal. Tapi anak saudara bapak tetap mengingat emak-kami. Tidak ada ubahnya, kebaikan masih sama.
Maka, aku belajar untuk menjaga kasih sayang itu. Apa yang ada pada diriku bukanlah usahaku sendiri. Tapi lingkungan yang membentuk kemudian egoku memilih membentuk sikap-sikap yang baik. Semoga niatku, harapku, tingkah lakuku dipandang sebagaimana maksudku.
6082026
Komentar