Tengah malam masih seperti sepi penuh debaran. Tangis di antara kenangan masih meleleh. Bagaimana? Apakah dilupakan atau ditegarkan? November, ini adalah bulanmu. Seperti dulu, selalu ada bahagia dan khawatir jika kau menyertai. Ini adalah bulanmu. Merujuk pada kelahiran dan tahun ini engkau mengingatkan pada kematian. Aku masih kaku. Kikuk. Meringis di antara sepi dan naungan tarhim. Setahun akan berlalu, kali pertama aku menulis tentang hari itu. Banyak kata yang tak bisa disampaikan, jelas ada rasa penyesalan dan kesalahan. Semua tertuang pada diri. Bagaimana, jika, andaikan, tapi, ah. Semua memang takdir terkadang ada bisikan bahwa ini adalah hadiah; ibadah, doa, cita, cinta. November, berapa lama aku menghindar pada malam lewat di tengah malam. Sebab, masa-masa itu aku masih merasa kehilangan yang tidak hilang. Aku masih mendengar sayup memanggil merintih yang mengajak tetap di sampingnya, tak menjauh. Malam ketika aku mengintip dari pantauan CCTV melihatnya tidur...