Langsung ke konten utama

Postingan

Hati-hati, ya!

“Hati-hati Nda” kata Mia teman dekat saya, ketika saya pamitan setelah mengantar dia pulang ke asrama Utin Candramidi. Rabu, 26 Oktober 2011 lalu. Kata “hati-hati Nda”, mengingatkan saya kembali pada cerita paman dan bibi saya beberapa bulan lalu.   Kata-kata ini pun, menjadi kata-kata wajib yang saya ucapkan, ketika saya berpisah dengan orang lain. Baik itu teman dekat, orang tua, tetangga, tamu atau siapapun yang berpamitan. Kata-kata ini memang kata-kata yang sederhana. Namun, saya merasa bahwa kata-kata sederhana ini   bisa mengunggah perasaan siapa saja. Termasuk paman dan bibi saya tadi. Kata-kata “hati-hati” ini ia dapatkan dari seorang anak yang baru saja masuk dalam lingkungan keluarga mereka.   Seorang anak rantau yang berasal dari Sanggau. Sengaja “menyerahkan diri” untuk membantu paman dan bibi saya mengurus rumah. Masak, mencuci, mengepel, menyapu dan mengurus anak bungsu mereka. Anak ini memang sengaja “diserahkan” orangtuanya pada paman dan ...

Sang Penulis Asa

Tapi, dinatara teman-teman Matematika itu, saya mempunyai teman yang saya rasa, dia juga suka dengan teman saya ini. Menulis. Dia Tri Rosi Susanti. Teman sewaktu sekelas sewaktu kelas X yang sangat tidak saya suka. Tampangnya sinis, pilih teman, suka minta perhatian tampaknya di kelas. Tapi, semua menjadi berbeda, ketika saya mengenal dia lebih dekat. Naik kelas XI saya malah duduk satu bangku dengan si alis tebal ini. Ternyata benar, jangan membenci seseorang dengan berlebihan, karena bisa jadi orang yang kita benci itu menjadi orang yang baik untuk kita. Dia saya sebut sebagai penulis "Asa". Asa adalah kata-kata yang ia suka gunakan untuk menulis bait-bait bahasa hatinya. Sajak atau puisi. Beberapa tulisan yang ia buat, selalu saya jumpai Asa. Saya pun menyebutnya Penulis Asa. Penulis Asa, semakin membuat saya menjadikan dia sebagai teman baik saya. Tidak sekedar sikap, tingkahnya yang baik. Tapi dia juga saya anggap sudah berteman dengan t...

Master Matematika (Teman baik)

Sudah lama rasanya tidak main-main bersama dengan teman saya ini. Ah, meninggalkannya membuat semua terasa semakin hampa. Menulis, dia teman saya. Sudah lama sebenarnya saya berteman dengan Dia, dari SD malah.  Pelajaran Bahasa Indonesia dengan tugas mengarangnya sangat di tunggu-tunggu. Mungkin karena banyak omongnya,banyak ngayalnya, mengarang menjadi sesuatu yang tidak terlalu sulit. Tidak sulit seperti mengerjakan tugas Matematika. Tidak membuat saya harus menjadi pemalak jawaban. Hem.. jadi ingat masa-masa saya jadi pemalak jawaban. Saya yang waktu itu masih kelas VI sudah sangat hebat melakukan hal ini. Posisi duduk yang dibelakangi oleh dua orang jawara kelas. Mereka, Rian Ismayono dan Suhandi. Dua anak lelaki ini sangat pintar. Matematika adalah mata pelajaran yang sangat dikuasainya. Suhandi anaknya lebih kalem. Sabar dan tidak nakal. Berbeda dengan Rian, atau yang sering kami panggil sebagai Rabaloy. Entah apa sejarahnya hingga Rian dipanggil Rabaloy. ...

Jadi Banci

Saya tidak suka Pink. Tapi bukan berarti saya benci Pink hingga tak mau pakai apapun yang berhubungan dengan Pink.Saya suka Fanta Milk. Pink itu katanya melambangkan cewek feminim. Lemah-lembut. Manis. Saya tidak suka Pink, saya juga tidak feminim. Kasar, dan kecut sekali. Saking kecutnya, jangan mencoba untuk merasa. Parah dari ketek. Asem. Saya tidak suka dandan. Lipstik dan bedak adalah dua hal yang sangat memusuhi saya. Saya tidak tahu sebabnya apa. Pastinya, dua make up penganggu ini sering luntur dari wajah saya. Dari kecil saya suka main sama Abang saya. Main kelayang, guli, bekubang ke parit, buat raket dari batang pisang, macing ikan di tempirai wak Eman tetangga samping rumah. Tapi saya yakin, itu semua bukanlah hal-hal yang menyebabkan saya menjadi tidak keperempuanan. Saya hanya tidak suka Pink, dandan, dan saya suka bermain dengan Abang saya. Itu saja. Tingkah saya, biasa saja. Biasanya membuat lelucon. berperan seperti orang bukit, pakai sepatu injak, tidak paka...

Jangan Tularkan Hitammu

Cerita ini sudah lama. Bulan September atau Agustus. Waktu itu, mata kuliah pembelajaran sudah selesai. Jadi, anak-anak di kelas pada salaman sama dosen pembimbing. Dosen saya yang ini membimbing  mata kuliah ini memang terkenal dengan style nya. Modis, dan selalu ikut zaman, cantik pula. Soal paduan make up dia juga jagonya. Saya yang juga mau salam-salaman. Saya pun menghampiri dia. Ternyata ada acara salaman pakai cipika-cipiki, alias cium pipi kanan, cium pipi kiri. Beuh, saya sebenarnya kurang suka yang beginian, takut pipi saya tidak bisa lepas. Pipi kita kan bertemu tu, khawatir si pipi ibu dosen, naksir pipi saya. Tapi, saya menghirmati beliau. Saya pun jadi ikut-ikutan juga, karena udah ditariknya juga tangan saya, biar pipis aya maju ke pipinya dia. Ajaibnya, si ibu dosen malah berpesan "Jangan kau tularkan itam kau ye". Apa mau dikata???

Nikah dan Skripsi

Bulan-bulan terakhir ini, saya sering ditanya masalah Skripsi. "Sudah nyusun kah?" "Bagaimana Skripsinya?" "Sebentar lagi selesai ya?" Menohok juga dengan pertanyaan ini. Seperti mudah-mudah saja. Galau juga saya jadinya. Saya lagi mematenkan salah satu, dari tiga musin di Indonesia ini.  Alay, Galau, dan Gombal. Beuh! Tapi, ada hal lagi yang paling membuat saya malas untuk membahasnya. Nikah. Beuh, Skripsi saja belum kelar bicara Nikah pulak. Ditimpuk pakai sabut kelapa sama Mak.

Borneo Tribune, Media Inspiring People

Pukul 11: 25 waktu di kantor Malay Corner. Saya baru saja memasuki ruangan ini. Kosong, sepertinya yang biasa duduk di meja masing-masing sedang menjalani tugas. Kotak bekas minuman mineral di atas meja, menjadi sasaran utama mata saya. Hem.. merasa sangat terlambat, karena janji untuk menjilid buku yang akan diterbitkan pada tanggal 30 Desember ini sudah selesai. Buku yang terlahir dari Borneo Tribune. Tidak mau mengungkapkan alasan, hanya pekerjaan rumah saja tadinya sedikit menghambat Kecepatan saya berada diruangan. Melihat cover buku dengan warna kuning berkolaborasi dengan hitam itu membuat membuat saya bergetar hati.   “Grrrr, grrrr”. Kira-kira. “Dug-dug-dug”, lanjut. Eh, kenapa bisa berbeda ya? hati menyimpang ini, he. Buku ini akan diterbitkan bersamaan dengan malam penghargaan Man Of The Year 2011 Borneo Tribune. Tinggal menghitung hari, terhitung dari hari saya menulis ini. Bahkan, tidak hanya buku ini saja yang akan diterbitkan. Buku fiksi karya ...