“Hati-hati Nda” kata Mia teman dekat saya, ketika saya pamitan setelah mengantar dia pulang ke asrama Utin Candramidi. Rabu, 26 Oktober 2011 lalu. Kata “hati-hati Nda”, mengingatkan saya kembali pada cerita paman dan bibi saya beberapa bulan lalu. Kata-kata ini pun, menjadi kata-kata wajib yang saya ucapkan, ketika saya berpisah dengan orang lain. Baik itu teman dekat, orang tua, tetangga, tamu atau siapapun yang berpamitan. Kata-kata ini memang kata-kata yang sederhana. Namun, saya merasa bahwa kata-kata sederhana ini bisa mengunggah perasaan siapa saja. Termasuk paman dan bibi saya tadi. Kata-kata “hati-hati” ini ia dapatkan dari seorang anak yang baru saja masuk dalam lingkungan keluarga mereka. Seorang anak rantau yang berasal dari Sanggau. Sengaja “menyerahkan diri” untuk membantu paman dan bibi saya mengurus rumah. Masak, mencuci, mengepel, menyapu dan mengurus anak bungsu mereka. Anak ini memang sengaja “diserahkan” orangtuanya pada paman dan ...