Langsung ke konten utama

Postingan

Pentingnya Cerita Silsilah Keturunan

Catatan pencarian nama #PART1 Saya berniat menjadikan nama sapaan atau panggilan sebagai masalah utama dalam tesis saya nantinya. Memang, saya belum pada masa pengusulan proposal, tapi ini adalah awal dari pemahaman saya pribadi untuk penyusunan rencana. Saya menjadikan buku garis keturunan Waris Sembilan yang saya peroleh sebagai bahan utama. Di dalam buku yang ditulis dengan mesin ketik itu, ditulis sembilan nama anak Opu Daeng H. Brahima yang berasal dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan atau yang dikenal dengan Waris Sembilan. Sejak dulu, saya mengira bahwa Waris Sembilan adalah sembilan anak Opu Daeng H. Brahima yang tinggal di kampung kami, Tanjung. Sembilan anak ini melangsungkan hidup di sana hingga kami-kami yang ada di kampung Tanjung adalah keturunan dari Waris Sembilan. Rupanya, pemahaman saya ini salah. Waris Sembilan tak semuanya ada di Kampung Tanjung. Mereka menyebar di berbagai daerah di Nusantara. Hal ini saya baru tahu setelah saya berkunjung ke rumah...

Pariwisata Apa yang Menggantikan Kekayaan Tanjong Bangkai

Pertanyaan ini mengadu-adu sejak saya mendengar kabar bahwa bagian ujung kampung akan dijadikan tempat wisata. Tanjong Bangkai atau juga dikenal dengan Tanjong Burong yang sepi, penuh pepohonan, bahkan sering dikenal tempat angker nantinya akan diubah menjadi tempat keramaian. Laut Cina Selatan yang dihadap oleh Tanjong Bangkai akan didatangkan banyak orang. Tanjong, tempat yang kata teman-teman saya bilang banyak meteor dulunya alias banyak lubang di jalan akan menjadi terkenal. Saya juga pernah mengkhayal bahwa kampung kami yang berdiri sejak 1772 Masehi itu berpotensi menjadi tempat wisata. Tapi, dalam pikiran saya yang mengelolanya adalah masyarakat Tanjung, orang Mempawah, orang Kalimantan Barat. Bukan seperti kabar yang saya peroleh. Tanah kami dibeli oleh orang asing.  Sungguh, kali pertama saya mendengar, saya merasa sedih. Saya benar-benar takut jika kampung dengan segala yang ada di sana, akan hilang identitasnya. Mungkin dinilai kolot, terlalu khawatir...

Selamat Datang #24

Saya menulis 20 menit sebelum kamu datang. 23.40 adalah waktu yang tertera di latop. Di menit 41 kalimat ke tiga saya mulai. Terima kasih kamu telah datang hari ini. Saya sangat senang dan besyukur akhirnya kita dipertemukan setelah saya nanti. Saya sudah becerita dengan kamu apa yang akan saya lakukan setelah kamu datang. Setidaknya, pemberitahuan itu menjadi persiapan untuk kit memantapkan diri. Saya benar-benar tidak dapat mengira apa yang terjadi pada waktu berikutnya. Saya hanya dapat berencana, dan Allah yang menentukan. Apakah saya akan lanjut pada hubungan berikutnya atau atetap berada di kamu.  Bersama kamu saya mengimpikan dapat menyelesaikan pendidikan saya, setidaknya Juni tahun depan. Sebelum kamu berganti. Karenanya, saya mohon dengan sangat, berbaik lah dengan saya, jauhkan hal-hal yang dapat membuat keinginan kita tertunda. Kekhawatiran saya, selama ini semoga saja tidak terjadi sebelum saya menyelesaikan target itu. Menuju kamu malam ini, s...

Obrolah Menuju Jam 10 Tadi

Kepada hati yang sedang merindu cinta Lihat lah, ada satu waktu yang menunggu untukmu duduk dan melamun jauh Kali ini, engkau dizinkan untuk menyendiri, menikmati mimpi-mimpi bersama yang engkau nanti Ajak lah dirinya untuk melihat apa yang terjadi padamu selama dia pergi Bukakan dia album kelam yang terekam Kepada hati yang sedang berjuang dengan cintanya Dengarkan kembali, suara-suara yang telah dikirmkan padamu. Khidmat lah dengan sempurna hingga engkau tahu dimana suara terbaik yang dimiliki Jika engkau dapatkan, bawa kembali pada telinga-telinga yang sempat kau dengarkan namun memudar sebelum suara itu habis disampaikan. Kepada hati yang masih meragu membuka pintu Coba, buka sedikit celah dari ruang dimiliki Bukan kah engkau sudah banyak tahu apa yang akan terjadi di luar sana, masih kah kau tak punya penawar untuk jika engkau sesekali terluka?  Melangkah lah saja, jika kau tak pernah mencoba maka kau tak tahu bahwa inginmu telah menunggu dirimu sangat lama.

Baik-baik saja?

Saya fikir saya baik-baik saja setelah menemukan SK Club Menulis ada di tempat berkas penting yang saya buat di ruangan. Dan,. Saya semakin merasa sangat baik setelah saya melihat ada berkas lain yang sempat jadi fikiran saya, disimpan oleh seseorang. Rupanya bukan saya lupa, tetapi seseorang ini menyimpanya tanpa memberi kabar, atau saya lupa bahwa saya memberikan berkas itu pada dia? Mengetahui hal tadi, saya cukup senang menyadari bahwa lupa saya bukan bagian dari “sakit”. Tidak teliti, teledor sebenarnya lebih tepat diberikan pada saya. Sebenarnya, barang-barang penting yang saya miliki sangat sering menghilang tanpa sedikit pun saya mengingat kronologinya. Kunci motor, dompet, dan ATM adalah kepentingan yang mudah saya hilangkan.  Dulu saya pernah kehilangan dompet dan behari-hari lamanya saya biarkan saja karena saya tak ingat sedikit pun kemana saya simpan. Setelah saya mengkhususkan diri mencarinya, ternyata dompet ini saya simpan di kotak sepatu, tempat saya...

Lupa: Membunuhku?

Ini bukan kali pertama saya menulis tentang lupa. Dan, sepertinya saya harus membuat satu lebel lag tentang hal satu ini: lupa. Lewat tengah malam begini saya berfikir keras tentang dokumen penting yang akan saya bicarakan besok. Saya tahu, saya sudah mengambilnya. Sudah dimasukan ke tas, dan di atas meja, dan setelah itu saya lupa. Tetapi, pada hari Senin lalu, saya ingin mengambil dokumen itu dari tas untuk menunjukan pada seseorang untuk konfimasi. Namun, tidak jadi karena saya melihat, beliau sangat sibuk. Saya tidak jadi membuka tas dan berencana akan menanyakan kembali setelah kegiatan di ruangan itu longgar. Dokumen penting itu adalah SK Club Menulis. Beberapa SK lain, yang diamanahkan Bang Taqin untuk diberikan kepada Koordinator masing-masing sudah saya berikan, tetapi untuk Club Menulis saya yang menyimpan untuk disampaikan dengan Pak Yus.  Saya sudah sampaikan kepada Pak Yus dan Pak Herman bahwa SK itu sudah ada dengan saya. Kemarin, SK itu ingin saya perlih...

Selamat Datang dalam Tulisan Ini

Hem. oke terima kasih untuk kepura-puraan kemarin yang lirik langsung menghadap lain. Apa sih? jangan dikira ada ketidaksadaran dalam perjalanan di teras gedung mewah itu adalah kamu? Saya faham betul bagaimana geligat kamu, bahkan dalam temaram malam. Mata mengekor meski tak terlalu jeli. Di ruangan mewah itu, meski tak tahu ada di posisi mana, radar cukup kuat mengatakan kehadiran kamu ada di situ. Fikir berkata ini adalah pertemuan pertama di bulan syawal. Pasti ada kisah salam-salam dan ketawa-ketawa, kenalan juga masuk di dalamnya. Mencari posisi duduk dan menunggu komunikasi SMS. HP dan BB yang rusak beberapa waktu lalu menghapus berbagai jejak. Jadi, menunggu adalah pilihan. Keyakinan menyatakan, tidak mungkin lah, tidak menyampaikan kabar. Tidak mungkin tak ada jabat tangan malam ini. Hingga rasa ingin keluar ruangan pun terasa. Berjalan pelan-pelan, kaki melangkah ke baris belakang. Jilbab biru duduk di samping, dan seseorang bepura-pura tidak memandang. Jangan dikira r...