Langsung ke konten utama

Postingan

Menuju Titik

Seminggu ini saya sangat lempem. Sering sedih. Mudah terharu. Sangat.  Saya sedang suka rindu-rindunya. Rindu dengan teman-teman dekat. Rindu dengan suasana semangat.   Rindu dengan ocehan. Rindu mengonsep mimpi. Rindu bicara bodoh.  Mengingat masa-masa itu, paru-paru saya seakan tertahan. Lalu mengundang haru dan menangis. Sedih saja. Tidak bertemu dengan orang-orang super itu. Waktu bertemu kami, lebih sedikit dari biasanya. Saya menyebut suasana ini dengan “sudah mencapai titik”. Titik ini bukan berarti habis. Tetapi pada pertemuan pilihan. Kami sudah menemukan titik umum yang kami ambil. Lalu melanjutkan cerita untuk mencapai pada titik-titik lain yang sejalan. Dulu, kami pernah membuat kesepakatan. Selesai skripsi kami akan menghibur diri berkeliling Jawa. Ternyata, waktu sidang skripsi kami tidak sama. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Saya yang waktu itu hari ini selesai sidang, sorenya mendapat tawaran membantu dosen untuk m...

Eh Mak Kamek Ulang Taon

"Aku laher, tanggal sebelas bulan sebelas, nyaman aku ingat e" begitu kata Emak beberapa tahun yang lalu. Katanya, pada zaman dulu orang-orang tidak menjadikan tanggal lahir sebagai tanggal spesial atau tidak perklu diingat.  Selamat ulang tahun Mak. Terima kasih untuk waktu, cinta, usia, doa, dan segala yang diberikan :*

Sedekah Pasif dan Produktif

Semalam, di kelas membahas tentang maraknya pengemis di lingkungan sekitar. Manajemen Pengemisteria juga dibahas. Ada yang beranggapan, jika ada pengemis silakan saja diberi, dampaknya jangan dipikrikan. Ada pula yang merasa bahwa tindakan itu malah membudayakan budaya malas dan meningkatkan presentase pengemis. Ya, katanya pengemis saja Pulang-Pergi menggunakan pesawat. Hidup lebih mewah. Pengemis yang punya manajemen. Lalu adalah istilah sedekah pasif dan produktif yang dijelaskan oleh teman sekelas. Saya menyimpulkannya, bahwa memberikan sedekah  pada pengemis yang sekali-kali bisa terbilang sebagai sedekah pasif. Sedangkan sedekah rutin pada satu obyek, dikatakan pasif. Menurut saya untuk menghindari budaya pengemis atau sedekah pasif. Baiknya kita menyerahkan sedekah kita para penerima sedekah yang dapat dipercaya. Suatu lembaga yang dapat mengarahkan kemana sedekah kita diberikan. Tentunya pada orang yang tepat. Saya merekomendasikan Dommpet Ummat....

Selalu Ada Tempat Berteduh

Dimanapun saya berada, saya selalu mendapatkan orang-orang yang mengerti keadaan saya. Dimanapun saya berada, saya selalu mendapatkan orang-orang yang bisa saya pahami. Terasa Klop!. Terasa cocok. Mari kita sama-sama mengingat. Sejak SD, SMP, SMA hingga kuliah, kita menemukan teman-teman yang cocok dengan kita kan? Seperti saat ini, di kelas ini. Baru saja beberapa bulan kami mengenal, dan saya merasa sudah diperlakukan sangat istimewa. Ya mereka layaknya payung, yang mencoba melindungi saya.

Begini saja, cukup

  Memutuskan untuk mengunjungi duniamu ternyata membuat saya tak betah. Bukan karena kamu tuan rumah yang tak menyenangkan, mungkin dari awal karena saya ragu masuk, sehingga pemikiran saya membuat saya tak ingin berlama-lama. Saya memutuskan untuk kembali. Berdiri di tepian jalan. Menunggu hujan, angin, panas Menunggu pagi, sore, malam Menunggu kamu

Kopi Susu

"Kamu mau kopi?" "Oh, ya, boleh" "Baik, saya akan membuatkan untukmu" "Hem, maaf Laksmi" "Ya?" "Hem, tidak apa-apa" "Baiklah, mungkin sedikit lama. Saya akan menanak air di tungku lebih dulu" "Ya, tidak apa-apa" *** "Silakan" "Terima kasih" "Saya pikir kamu tidak terbiasa dengan kopi hitam, apalagi kopi yang yang hanya ditumbuk begini" "Itu alasan kamu menyediakan sekaleng susu ini?" "Iya, silakan" "Saya rasa, saya belum bisa meminumnya. Panas sekali. Memegang gelas ini saja rasanya sukar" "Apa kamu pernah meminum kopi bukan dari gelas atau cangkir?" "Maksud kamu?" "Apa kamu pernah?" "Belum" "Mau coba? saya pikir kamu akan suka, karena kamu bisa lebih menikmati aroma dari kopi susu ini" "Ya, boleh" "Saya biasanya...