Langsung ke konten utama

Postingan

Tekwan Lampung: Sensasi Rawit Hijau dan Kriuknya Mentimun

Saya mendapat kesempatan untuk ikut rombongan tempat kerja ke Lampung. Tujuan kami adalah kampus Raden Intan. Di sana kami menginap di hotel berbintang. Mevvah lah. Namun, di balik kemevvahan itu kami melakukan hal seru. Carter oplet menuju kampus. Hahaha, Path menjadi seru ketikah mendapat titik baru.  Tertawa melihat sendiri dan bangga akan kenangan lama yang sudah bertahun tak naik angkot. Pecah ketika satpam kampus pun bingung, ada angkot masuk kampus. Di sana ada kue yang berbentuk pisang goreng tapi bukan pisang. Rasanya merindukan, ingin lagi tapi malu. Saat selesai kegiatan kami diajak makan malam. Saya memesan mie tek-tek kuah. Uuuuh, nikmatnya. Segar. Dicampur dengan sambal hijau tanpa minyak dan potongan mentimun. Makanan bikin rindu itu daftarnya tambah satu. Rupa-rupanya, tak cukup di situ. Kami bertamu ke rumah teman lama dari anggota perjalanan ini. Menyisir sedikit gang kecil kami pun sampai. Kami disuguhkan tekwan panas buatan sendiri dari racikan istri yang dicint...

Angkot Android di Bandar Lampung

Jangan khawatir tidak mendapat Angkutan Kota (Angkot) di Lampung. Berdiri di pinggir jalan tak perlu memakan waktu 15 menit. Saya dan rekan Studi Banding telah membuktikannya, bahkan baru saja keluar dari halaman hotel, Angkotnya sudah standy by . Opelet kata Orang Pontianak, Sebanyak saya bepergian di luar Pontianak, lumayan masih banyak di temukan, ketika di Kaltim, tim juga menggunakan transportasi sebagai akses utama, ketika ke Sintang, masih juga ada hanya lumayan lah untuk menunggu. Di Bandung, juga masih banyak, halte-halte di sana juga tepelihara. Warna-warnanya mencolok dan Menunjukan kebaruannya, sepertinya mereka menjaga rupa opeletnya untuk menarik penumpang. Nah, sedangkan di Pontianak semakin sukar ditemukan karena anak Sekolah malah lebih banyak bersepeda motor dan diantar orang tua daripada mengeopelet . Namun masih ada yang beoperasi, meski penumpangnya tidak sebanyak tahun 90-an. Namun, sebanyak opelet yang saya tumpangi, baru di Lampung lah saya melihat...

Pagi yang Dimanjakan Novotel, Bandar Lampung

Melewatkan sarapan di Novotel, Bandar Lampung tentu akan menjadi penyesalan tersendiri. Hotel yang berada di Jalan Gatot Subroto ini menyajikan beragam sarapan. Saya dan Mbak Reka turun dari lantai III sekitar pukul 07.00, menyisir sebelah kanan dengan mata nyambi membaca menu-menu yang disajikan. Saat kami sedang berpikir memilih roti-rotian atau bubur, Koki di seberang meja sibuk menggoreng telur setengah matangnya. Bulatnya kuning telur  di piring tamu saat dibawa tampak menggiurkan, tapi pagi ini saya tak berminat dengan telur tersebut. Agak khawatir  leher tidak terlalu menerimanya. Bubur Hongkong, Mie Ayam, Nasi Goreng, Mie Hokkian, Salad, jus, puding, bahkan serabi, jajanan khas Lampung tersedia di ruangan dengan meja makan yang tertata rapi ini. Setelah tahu sarapan pilihan, Koran Lampung Post yang saya bawa dari gangang pintu kamar kami bernomor 3011 saya letakkan di meja bewarna orange dan kursi empuk bewarna cream. Saya memilih bubur Hongkong, mangkuk kecil ya...

Kota Sejuta Siger

Kota Sejuta Siger, begitu judul artikel yang saya baca mengenai Kota Lampung. Bagaimana saya tidak penasaran dengan lambang tersebut. Hampir seluruh toko, kantor, sekolah, bahkan gang-gang atau  komplek pun saya lihat memasang lambang bewarna emas ini. Pak Rizal, Kasubag Perencananaan IAIN Raden Intan menjawab rasa penasara n saya, ternyata Walikota Lampung memang mewajibkan untuk menggunakan lambang ini. Suatu kebijakan yang sangat kreatif. Identitas dari Lampung telah dibentuk melalui mahkota pengantin perempuan Lampung ini.  Apabila melewati Jalan Gatot Subroto, di simpang Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, patung pengantin atau pasangan yang mengenakan baju adat Lampung ini terlihat di situ. Jika perempuan mengenakan Siger, lelakinya Peci Tapis. Tapis adalah kain tenunan berbenang emas. Kain tenun asli khas Lampung juga. Jika melihat dari bentuknya yang cantik. Itu lah yang mungkin menjadikan Siger sebagai icon atau identitas. Sayangnya, masih ada toko atau kan...

5 Hari untuk Lampung

Saya diikutsertakan di kegiatan Studi Banding ke Lampung. Bersama 8 orang lainnua, pegawai Institut Agama Islam Negeri Pontianak. Kami akan ke IAIN Raden Intan dan STAIN Metro. Menurut Pak Sumarman, Kabag Akademik yang hari ini menjadi kepala rombongan, ada alasan penting yang menjadikan dua perguruan tinggi Islam tersebut untuk kami datangi. IAIN Raden Intan, berdasarkan informasi yang beliau dapatkan, menjadi IAIN yang tercepat dalam pemeriksaan BPK tahun lalu. Mereka hanya perlu dua hari, untuk berada di sana. Bagaimana sistemnya, itulah yang ingin kami ketahui. IAIN RI juga menjadi PTKI yang banyak diminati calon mahasiswa loh. Sedangkan STAIN Metro adalah pembawa gelar kemenangan terbanyak ketika Pionir di STAIN Pontianak beberapa tahun lalu. Hem, gitu kalai tidak salah alasannya :D. Hari ini menjadi hari pertama SB, kami berkumpul di Bandara Internasional Supadio Pontianak sekitar 5.30, ya kecuali Bang Dame yang sempat membuat semua deg-deg-an, karena telat datang, hahahahaha....

Pernah Merasa Tidak Diinginkan?

Saya pernah. Jika itu terjadi maka saya akan mudah merasa, bahwa suara, gerak, bahkan nafas orang di sekitar saya tidak ingin keberadaan saya, ada. Jika ada langkah kaki terburu-buru, bisa saya artikan, bahwa orang-orang tidak suka saya bebaring, atau duduk. Jika ada barang terjatuh, berbunyi klantang-kluntung, bisa saya artikan, orang-orang tidak ikhlas membiarkan saya diam. Jika ada suara berbisik, saya menduga mereka membicarakan saya. Jika mereka diam, itu artinya mereka tak ingin bicara dengan saya. Jika mereka banyak bicara, begerak, dan segala hal dimasalahkan, tapi bukan menyebut saya, bukam bicara dengan saya, saya mengkhianati pemikiran positif saya. Saya meyakini, bahwa orang-orang ingin menyinggung saya. Ah, ya. Kalau saya bicara, mengajak bicara, berusaha memperbaiki ketika saya merasa kejanggalan artian itu, lalu sepatah dua patah saja dibalas, kadang diam, hem itu lah membuat saya berpikir untuk pergi saja. Kemanalah. Serah! Tapi, itu semua hanya dipemikiran saya...