Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Ayah (Bapak)

Ada pelajaran baru yang saya dapat hari ini. Berasal dari foto keluarga di sebuah rumah, sebelah kiri salah satu nama jalan di Pontianak. Seorang remaja yang berdiri tersenyum bersama sang Ibu, dan keluarga lainnya. Tapi tidak ada sosok seorang ayah diantara mereka. "Ada apa dengan Ayahnya?" tanya Bukan untuk berbicara tentang hal buruk tentang Remaja ini, tapi tentang keadaan yang disyukuri. Tidak ada ada yang tahu bagaimana kita ke depan nanti. Qadha dan Qadar tidak dapat intip, tebak, apalagi kita bongkar. Pikiran negatif: Ayahnya telah meninggal (1) Pikiran negatif: Ayahnya pergi meninggalkan tanggung jawab sebagai Ayah (2) Pikiran negatif: Ayahnya menjatuhkan talak (3) Ketika obrolan di rumah berdinding papan yang terasa adem itu, saya masih saja berpikir. Apa yang terjadi dengan Ayahnya. Ah, pikiran melalang buana. Rusuh, kepo, seperti tidak ada pikiran lain yang mesti dipikirkan. Sempat pula berpikir, saat foto keluarga itu diambil, mungkin sang Ayah seda...

Kita Mesti bersama (untuk yang belum mendapatkan panggilan Sayang)

Hubungan kita tidak bisa hanya kita berdua saja. Kamu tahu itu kan. Ya jadi hubungan ini mesti kita konsultasikan dengan orang yang tau betul dengan kita. Aku tahu, kamu dan aku masih banyak hal belum dipahami. Ya, Senin nanti kita akan mencoba bertemu dengan orang yang akan menemani masa-masa perjalanan kita. Aku tidak akan sembunyi denganmu, akan aku ceritakan  tentang komunikasiku dengan orang ini. Kita sangat bergantung pada dia, kami baik-baik ya sama dia. Dia bilang: "Hari rabu ye.... hari -besok saye di asrama Haji, ngasi materi PLPG" Tadi beliau memberi kabar lagi: "Maaf, saya diminta lagi ngasi materi PLPG sampai hari Jumat. Ketemu saya hari senin saja" Terus Aku tanya, kapankah kita bisa bertemu dengan beliau dan membicarakan hal serius, yang menjadi awal pembicaraan yang serius. "Kalau bisa hari selasa, biar saya baca dulu Proposalnya, Jam 8 lah, bilang saja ke bu Nia..." Ya, aku dan kamu mesti bersiap-siap. Hubungan kita akan...

Jadian (semoga kita menjadi pasangan yang mesra, setia, dan kompak)

Senin, 06 Agustus 2012. Hari ini menjadi hari yang mendebarkan. Apa yang saya harapkan selama ini akhirnya terwujud. Moment ini adalah moment yang telah lama saya tunggu. Berbulan-bulan lamanya, bahkan rentang waktu yang lama itu tidak bisa saya jabarkan bagaimana jelasnya. Saya berdebar mendengar kata-kata itu. Degup jantungnya tidak menentu. Telinga saya seperti mendengar hembusan angin. Langka kaki serasa lamban, tidak ingin cepat menghabiskan masa-masa itu. Benarkah? saya jadian? Benarkah hubungan ini diterima? Benarkah tidak ada hal serius yang perlu dibicarakan? Kata-kata yang tak banyak itu, sungguh! kata-kata yang tidak banyak itu cuma ada 1, 2, 3, 4 Hanya ada Empat. Dan saya langsung mengangguk Ah semoga, hubungan saya denganya bisa berjalan dengan baik. Semoga perjalanan kami akan mulus-mulus saja Dia adalah kunci menuju kehidupan yang lebih baik Dia akan membawa saya ke masa depan Ah, saya terharu saya semakin sayang saya semakin menggila ingin ras...

Kapuas dan Peneliti dari Jerman

Ada kabar bahwa peneliti dari Jerman akan datang ke Club Menulis yang bermarkas di Malay Corner. Kabar ini saya dapatkan dari pembimbing Club Menulis melalui SMS, Kamis malam.   “Tim peneliti dari jerman akan ke club menulis untuk liat buku2. Mereka tertarik pada buku Kapuas. Keren gak tu?” Peneliti? Dari Jerman? Lihat buku? Buku Kapuas? Keren gak tu?. Alamak bagian mana yang tidak keren? Apanya yang tidak menakjubkan? Apanya yang tidak luar biasa? Bertemu dengan peneliti adalah hal yang luar biasa. Kedatangan mereka mengartikan akan ada pembagian pengalaman. Dapat cerita dan ilmu baru. Kabar tadi sangat menggembirakan. Lagi-lagi kami bertemu dengan peneliti, dari luar negeri pula.   Jangankan yang luar, dari lokal saja kami sangat senang.   Peneliti yang datang di Club tidak sekedar datang untuk mencari buku atau informasi untuk keperluan mereka. Tetapi kedatangan mereka akan selalu memberi inspirasi untuk kami.   Kedatangan para peneliti memberi bukti...

Bertemu Sastrawan,Zawawi Imran

Aula FKIP Untan malam itu (senin, 05/02/12) terlihat ramai. Pintu masuk dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian rapi. Keberadaan mereka di tempat itu, sudah jelas apa tujuannya. Temu Sastrawan D. Zawawi Imran, jawabnya. Seperti tujuan mereka, saya bersama teman saya, Wardah “menyelitkan” diri diantara keramaian. Bertemu dengan seorang Sastrawan yang terkenal, tentu tak mau saya lewatkan. Belum tentu, kemudian hari akan mendapatkan kesempatan ini. Mendapatkan Inspirasi itulah tujuan utama saya. Setelah “menyelit” saya berhasil masuk ruangan. Penuh, itulah kenyataanya. Hampir tak ada kursi kosong. Untungnya saya mendapatkan   satu kursi di depan pintu. Merasa menutup jalan, saya memindahkan kursi ke samping kanan, dan menyuruh teman tadi untuk duduk. Selanjutnya saya mendaftarkan diri kepada panitia, sebagai peserta dalam acara temu sastra D. Zawawi Imran. Kembali “menyelit”, saya merapatkan diri di bagian ujung kanan. Saya berhasil mendapatkan satu kursi. Dari ujun...

Jadi Mr. Krabs

Jadi ceritanya buku perdana saya Otakku Cenat-cenut terbit, Kamis lalu bersamaan dengan buku Club Menulis yang lainnya. Saking senangnya punya buku pribadi saya pun menjadi autis mempromokan buku tersebut. Dari teman dekat hingga teman tak pernah bertemu. Pastinya semua sodara-sodara saya kasih tahu. Untung-untung ada yang minat mau beli. Selain itu memberi kabar bahwa   saya sudah punya buku. Ingat dengan sambutan Pak Haitami, nanti kasi tahu Ibu di Kampung bahwa nerbitkan buku, kasi tau sama orang Kampung. Waktu itu, saya pun langsung menujukkan buku Aku Anak Kampong karya anggota Club. Pak Haitami ketawa juga melihat sampulnya, beliau bilang foto kami dijadikan sampul. Ya, memang senang punya karya sendiri. Narsis, emang iya sih,   tapi bukan maksud untuk membuat diri jadi sok, tinggi hati tapi ingin juga ada yang ikutan di dunia kepenulisan. Beberapa teman, memang ada yang mendalami dunia satu ini. Ya, divirusi lagi lah. Selain itu, setelah beberapa buku terbi...

Ketikan Komputer Anak Sungai Terus

“Anak-anak antusias ya?, respon Azhari, ketua kelompok kami. Sabtu itu, Azhari melihat siswa-siswi   kelas IV SD Negeri 32 Sungai Terus berkumpul di depan meja guru. Di kursi guru, saya duduk mengamati siswa yang menggunakan jari telunjuk kanannya untuk menekan huruf-huruf yang yang ada di keyboard. Mata mereka mengamati hamparan huruf qwerty, jari-jari yang siap menekan tertahan di atas keyboard menunggu matanya memberi arah letak huruf yang diinginkan. Saat penantian itu tangan mereka tampak bergegar, bulir keringat kadang mengalir di jidat mereka. Belum lagi tampang bingung mereka semakin mejadi ketika teman-teman yang berkumpul berteriak kecil, menujukkan letak huruf yang diinginkan. Tidak hanya tuts huruf yang mereka cari tapi tulisan Backspace , Enter , Space , Caps Lock , Ctrl , Shift , dan tanda baca lainnya ikut membingungkan mereka. Tapi, tentu pencarian itu bagaikan pertualangan mata mereka dengan sesuatu yang baru. Personal Computer PC), Laptop. ...