Langsung ke konten utama

Postingan

Menjadi Pemandu

Ya, hari ini saya menjalankan tugas saya sebagai orang yang berbisnis,, hhahahham bisnis blog maksudnya. Sebelumnya, saya sudah masuk di kelas ini, senin kemaren. Saya memandu enam mahasiswa dari kelas khusus, maksunya kelas yang mahasiswanya sudah menajdi guru, atau kuliah untuk s1 nya. Hum, ternyata memandu mereka, cukup memusingkan juga. Saya harus menajdi turor mereka, satu per satu. Menunjukan apa yang harus di klik, dan apa yang harus di isi. Meski mereka hanya enam orang, tapi suara yeng terus memanggil nam asaya, lebih dari enam rasanya. “ninda, ini apa lagi”. “mbak, nape gini”. “bu’ ape lagi”. “ninda”. “bu;”, “mbak”. Hua panggilan untuk saya juga tak cukup satu. Belum lagi. Cerita jaringan internet yang suka mandat, akhirnya mahasiswa yang sudah semangat mesti, menunggu connect nya tu internet. Hingga da yang mengeluh. Parahnya, lagi ada emailnya yang hampir jadi, eh malah hilang. Hal ini tidak dapat saya jelaskan, apakah karena emang tu program yang salah, atau mereka men...

Inspirasi dari Borneo

Sabtu ini 22.01.11, di club menulis. Pertemuan kali ini, pembahasanya sama dengan minggu sebelumnya. Menulis resensi buku. Salah satu cara mudah untuk meresensi ialah membaca pengantar penulis. Karena, kita akan mendapat informasi, mengenai tujuan penulisan, kelebihan, jenis tulisan atau kekuranganya. Tapi perlu diingat. Hal ini bukan berarti kita mengambil isi pengantar sebagai tulisan dalam resensi. Setiap orang membaca pengantar buku yang telah dipilihnya. Saya membaca buku, Inspirasi dari Borneo,kumpulan suara enggang di harian Borneo metro. Buku terbitan Borneo press ini, berisi tulisan dari rubrik suara Enggang. Salah satu redaktur, di Borneo tribun penulisnya. Yusriadi. Benar, saya mendapatkan tujuan dari penerbitan buku, melalui kata pengantar itu. Buku ini memang kisah nyata, yang di alami oleh penulis. Kisah-kisah yang berasal lingkungan sekitar. Namun, kisah ini menyajikan gagasan-gagasan yang memberi inspirasi. Si penulis juga mendapat inspirasi menulis dari kisah yang di ...

Bisnis Blog

Terinspirasi dari salah satu komentar yang ada di group Warta STAIN. Entah siapa orang itu, pastinya ia memberi komentar yang maksudnya menyampaikan promosi. Si komentar menawarkan jasa pembuatan Blog. Rp. 20.000. Saya tertawa awalnya. Berpikir, apa sulitnya membuat blog. Saya sendiri punya blog yang saat membuatnya tidak diajarkan oleh siapapun. Saya otak-atik saja apa yang ada. Toh, tinggal “klik”. muncul. Jika salah atau ada yang tidak diminati, tinggal back. Ya begitulah cara saya. Bahkan, bisa jadi cara semua orang. Tapi, ternyata saya salah. Masih ada orang yang tidak tahu membuat blog, atau bisa saja dia tidak mau repot-repot mendaftarkan diri menjadi blogger. Maunya instans aja. Cepat. Dan, saya telah menemukan beberapa orang yang tidak pandai membuat blog. Masih ada yang bingung, apa itu blog. Di club menulis, Pak Yus pernah menyarankan mahasiswanya atau anggota club mempunyai blog. Ya, saya sependapat. Sebagai penulis, memang baik menggunakan blog sebagai sarana untuk mem...

Saya senang demam

Saya sedang demam. Deman yang aneh. Jika deman saya ini dibawa ke dokter, mungkin tidak ada obatnya. Tapi, saya senang dengan penyakit yang satu ini. Demam positif. Saya menyebutnya demam blog. Ya, saya sedang geliatnya memposting tulisan di blog. Tidak hanya itu, saya juga sedang senang-senangnya menambah gadget di blog saya. Sebenarnya saya sudah lama punya blog, hanya tidak sering mengunjunginya. Salah satu penyebabnya, tidak punya banyak duit dan waktu untuk ke warnet. Internet ketika itu, masih belum merajalela seperti ini. Tidak terlalu lama, sih. Baru tiga tahun yang lalu. Tapi, biar bagaimana pun, internet lebih meriah yang sekarang. Selain itu, saya juga sedang mencoba mempatenkan bisnis membuat blog. Rp. 5.000, hanya Rp. 5.000. Saya tahu, semua orang bisa membuat blog, apalagi bergabung di situs seperti ini tidaklah sulit. Tapi saya berharap ada yang berminat. Saya yakin pasti ada. Apa saya harus, cabut saja bisnis ini?. Hah, tidak apalah. Siapa tahu ada yang berminat. Serasa...

Kering!

“Keriiiiiiiiiing”. Saya pinjam kata itu untuk, mewakili perasaan saya saat ini. “Keriiiiiiing”. Ya, saya benar-benar kering motivasi. Motivasi saya tiba-tiba saja mengering di semester V. Padahal saya tahu, semester ini baiknya saya lebih serius dan lebih semangat. Tinggal tiga atau empat semester lagi, saya bisa menyelesaikan Study strata satu. Tapi, apa penyebabnya?. Semangat dan keseriusan saya mengacaukan semua yang saya impikan. Ada apa dengan saya?. Hayaaaaaaaa...... Mau diapakan lagi?. huruf D, sudah saya dapatkan. Dari seorang dosen yang saya sebut asal saja dengan Pak Raden, karena dia punya kumis. Alasanya, dia bilang kami telah melukai hatinya. Jjjaaaah, mengapa hari gini masih ada dosen yang mudah patah hati?. Apa dosa kami,?. Kami tidak pernah menyabut kumisnya, atau benar-benar melukai hatinya dengan sembilu. “Dosen juga manusia punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati” Tapi, kami tidak pernah, tidak memperdulikan dia. “Walau badai menghadang, ku kan sela...

Candy-candy

Hai!. Kenalkan, kami Candy-candy. Kami adalah lima sahabat yang berasal dari kampung yang sama. Perlu diketahui, adanya Candy-candy bukanlah unsur kesengajaan. Seseorang yang ada di kampung kami, tiba-tiba memanggil kami “Candy-candy”. Saat itu tidak ada satu pun dari kami yang menyahut. Alasanya, sederhana saja sih, kami semua suka baca komik Candy-candy. Kami juga suka coklat Candy, begitulah katanya. Meski kami bingung ketika itu. Kabar ini menjadi gempar di kampung, ini juga karena orang tua kami yang suka ngrumpi. Saat kami cerita dengan mereka, eh mereka malah cerita dengan teman-temanya. Akhirnya teman-temanya itu bercerita lagi dengan teman-teman yang lain. Begitulah berita julukan Candy-candy menyebar. Akhirnya, berjalan dengan waktu dan semakin dikenalnya kami sebagai lima gadis kecil yang selalu bersama. Kami pun menggunakan nama itu untuk menamai persahabatan kami. Apa salahnya coba?, Candy kan cantik. Hihihi. Akhirnya, tidak terasa nama Candy-candy sudah empat tahun kami ...

Menulis itu mengabadikan

Orang itu bilang menulis adalah pekerjaan yang mengabadikan Kemudian ada lagi yang bilang, menulis membuat hidup menjadi lebih bermakna, bahkan kita memiliki sejarah hidup karena menulis Lanjut, katanya menulis itu pengungkapan pemikiran Mengajak hasrat untuk belajar secara alami, membaca, dan bertanya kemudian menjawab Orang yang menulis juga tidak akan merasa sepi, meskipun ia sedang sendiri Karena, ia dapat bercerita dengan pikiranya yang dituangkan di dalam tulisan. Banyak cerita dari tulisan, fakta berita, paradigma berpikir, khayalan, ungkapan perasaan, kejujuran. Banyak hal yang didapat dari menulis.