Langsung ke konten utama

Postingan

Dek, dek, tak baek, dek!

“West stiker Larry The Lobster” Terdengar, anak-anak baru ABG, berbsisik membahas stiker Band yang tertempel di tebeng motor Vega Silverku. Aku tak terlalu menghiraukan apa yang mereka ributkan itu. mata dan otakku bekerja mencoba mencari posisi yang nyaman untuk aku dan Aii, kawanku. Namun, sebelum mataku berlari-lari melirik, mata ini tertuju lagi pada empat anak ABG, yang tepat di depanku. Memang tidak terlalu dekat, jarak kami dipisahkan oleh aliran air yang mengalir. Dua diatara mereka sudah biasa aku lihat di cafe kecil ini, ya! Ia adalah siswi dari SMP didepan cafe ini. rambut panjangnya terurai panjang. Ia selalu menebar tawa dengan temanya, sedangkan yang satunya rambutnya didikat tapi tak rapi, mereka duduk terpisah. Siswi berambut panjang itu duduk disamping teman lelakinya yang berjaket kuning, tangannya merangkul siswi itu. meski aku tak terlalu fokus memperhatikan mereka, tapi tingkah mereka jelas kulihat. Baru dua langkah aku meninggalkan motorklu dengan mata yang masih ...
"hah?" aku berteriak kecil untuk telingaku. Sendiri sebenarnya tak berteriakpun tak apa, toh yang ada didalam kamar ini hanya aku. Tapi, entahlah. menurtku itu respon spontan. aku terkejut setelah lama bermimpi. malam ini aku lebih awal mencari mimpi. Tulang-tulang yang menyanggah tubuhku merasa lelah, ngilu. aku tentu harus mengajak mereka beristirahat. karena itu, jam tidurku lebih cepat dari biasanya. meski tak melihat jam di dinding, ya karena baterainya habis, meski tak melihat jam dari dari HP. Aku tahu sekarang sudah lewat jam 12 malam. Anjing koko depan Gg menggongong. kebiasaanya ditengah malam. Terbelalak seketika dari mimpi itu, Mataku tentu langsung melihat. Namun yang terpandang hanyalah gelap. ku mencari celah di luar kamar yang semakin panas, kipas angin kecil berwarna biru yang aku letakkan diatas radio juga tak hidup.penyebab utanmanya karena keadaan kamar ini. aku menolehkan kepalaku, dan menerawang kelangit kamar. tapi, tetap gelap. aku mengenggam tangan, t...

dia, kembali ngek

ternyata memang tak nyaman rasanya, diharapkan menjadi pecinta untuk orang yang tidak dicinta barusan aku kembali dihadapkan dengan suasana itu Dan aku menggunakan topeng berpura-pura tak mengerti dengan apa yang dimaksud. dia datang lagi ngek, orang yang dulunya pernah aku puja, tapi tu zaman aku masih pake seragam biru-putih ngek, jauh sebelum aku kenal kamu ngek. ahaii, aku memang sempat punya hubungan serius ma dia ngek, tapi waktu itu sumpah ngek aku terpaksa. karena ia terlalu banyak menghabiskan waktunya buat aku ngek. Mulanya aku gak mau buat dia kecewa ngek, makanya dia ku terrima. dengan catatan 100 hari percobaan atau waktu akhir buat jalani hubugan itu, tapi itu hanya kontrak pribadi, dia nggak tau. he. 100 hari ternyata lama, ternyata aku ggak kuat ngek, terlalu banyak tuntutan, meski itu hanya tanggapan aku aja, tapi biar gimanapun aku memang ngerasa kayak gitu. huf aku benci suasana kayak gitu. Buat aku malas banyak tuntunan. hugf! kemaren, tiba-tiba dia nghubungi aku ...

Hilang, Lenyap di Pusar Dunia

“nda..anak pak Al meninggal” Seperti itulah yang ku dengar, dilalai tidurku. Entah sudah jam berapa tapi, jam tidurku gari ini memang lebih awal. Terngiang kata-kata itu dalam pikiran ku, ingin tak ku perdulikan tapi ada rasa penasaran walau setengah sadar. Mendalam dalam lamunan dengan mata terpejam, aku mencoba mencerna kembali, mengingat siapa orang yang disebut tadi. Pak Al!. Yang hanya aku ingat hanya seorang Dokter, saat aku masih kecil ibuku selalu membawa aku berobat di sana. Nenek sungguh yakin ia tidak akan sembuh kalau bukan Dokter itu yang menanganinya, walau nenek percaya dokter hanyalah perantara, bukan dokter yang menyembuhkanya. Tapi dokter itu, bukan pak Al, tapi pak Ar. Kini akupun tak tahu keberadaan dokter lanjut usia itu, mungkin sudah meninggal. Berakhir dengan kebingungan, aku perkuat mataku dan aku berteriak dari dalam kamar. “Cu, tadi panggil Nin ke?” tanyaku pada kakak sepupuku yang selalu aku pannggil Ucu, ucu itu bukan namanya tapi hanya panggilan, begi...

musuh bebuyutan.si nek mas peot pelit

Ponselku bersirine tepat masjid yang jaraknya 100 meter dari kamar menggelegarkan sunyi dengan kumandang adzan subuhnya, alarm yang kustel semalam sengaja kupilih dengan nada ambulance, komposer yang kubuat sendiri. Suaranya cukup mengejutkan pikiranku, jika mendengar sirine ini aku bisa terbangun dengan lekas. Karena aku langsung menduga nenek sebelah rumah yang pelit dan peot itu mati. Sebenarnya dugaan ini sangat berlebihan paling tidak dugaan ini seperti mendoakan nenek pelit itu lekas mati, tapi siapa suruh jadi nenek pelit dan menjengkelkan. Karena satu kuntum bunga mawar saja aku di jewer mama, gara-gara tuh nenek pelit ngaduh ke mama, dengan tuduhan aku mencuri bunga mawar merah kesayangannya, padahalkan bukan aku, bukan tangan aku yang metik tu bunga, kan jarinya ekel yang ambil, dia kok yang metik aku Cuma naik pagar dan nunjukin bunga mana yang harus di petik..Siapa suruh nanam bunga disamping pagar, ya nongol lah bunganya dihalaman rumahku. Aku ma ekel kan jadi pengen, lah...